zona BOB

NO BODY IS PERFECT

NO BODY IS PERFECT
Bobit Kowanus Utomo

Senin, 28 Juni 2010

LAPORAN SEMESTER MANAJEMEN TERNAK UNGGAS (ayam arab) bob

created y bobit kowanus utomoPENDAHULUAN


Latar Belakang
Ayam arab merupakan ayam tipe petelur unggul karena kemampuannya bertelur yang cukup tinggi. Kebanyakan masyarakat memanfaatkan ayam arab karena produksi telurnya tinggi yaitu mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur rata-rata 40 gram. Warna kerabang sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat sehingga kadang banyak orang yang tidak bisa membedakan mana telur ayam arab dan mana telur ayam kampung.
Banyak alas an mengapa ayam ini disebut ayam arab, selain karenaaawalnya dibawa dari kepulangan ibadah haji dari tanah arab, juga karena pejantan arab memiliki bulu dari kepala sampai leher membentuk jilbab apabila dilihat dari jauh.
Ayam arab sebagai penghasil daging juga cukup baik, DOC jantan yang dipelihara sekitar 2-3 bulan dengan sentuhan pakan yang baik sudah mampu mencapai bobot badan antara 4-5 ons. Warna kulit yang agak kehitaman, dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung membuat daging ayam ini kurang disukai oleh konsumen. Akan tetapi bagi sebagian peternak yang kreatif, ayam arab ini dikawin silang dengan ayam kampung. Dan apa hasilnya? Ya, ayam dengan postur kampung, kerabang telur sudah tidak putih lagi dan daging yang sedikit lebih terang daripada ayam arab asli.
Ayam arab mudah dikenali dari warna bulunya. Ayam arab dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan jenis bulunya yaitu jenis silver (berwarna putih mengkilap atau orang menyebutnya perak) dan jenis gold (merah). Untuk jenis silver, bulu sepanjang leher berwarna putih mengkilap, bulu punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. Sedang jenggernya kecil dengan warna merah menyala dan mata hitam dengan dilingkari warna kuning.
Ciri lain ayam arab adalah pada saat umur satu minggu pejantan sudah tumbuh jengger. Induk betina tidak mempunyai sifat mengeram dengan usia produktif sampai umur 1,5 tahun. Dengan pengelolaan yang baik, ayam ini bisa dipupuk sebagai sumber penghasilan yang menguntungkan.
Penampilan ayam arab lebih menarik dibandingkan ayam buras biasa. Produktivitas telurnya tinggi hampir menyerupai produkitivitas ayam petelur ras. Bentuk dan warna telurnya sama dengan ayam kampung. Hal-hal tersebut merupakan daya tarik yang menyebabkan banyak peternak mulai membudidaykan ayam ini secara serius.

a. Keunggulan Ayam Arab
1. Harga DOC yang berfluktuasi, kadang lebih tinggi/rendah dibandingkan ayam kampung biasa. Per Agustus 2008 harga doc 3.500/ekor sudah divaksin mareks.
2. Berat telur berkisar antara 35-42,5 gram
3. Warna kerabang telur bervariasi yaitu putih, kekuningan dan putih kecoklatan
4. Harga induk tergolong tinggi (pullet mencapai harga Rp 40.000/ekor)
5. Konsumsi pakan (FCR) relatif kecil karena termasuk tipe kecil
6. Daya seksualitas pejantan tinggi
7. Ayam betina tidak mempunyai sifat mengeram, sehingga masa bertelurnya panjang
8. Bisa dijadikan untuk perbaikan genetik ayam buras

b. Kelemahan Ayam Arab
1. Wama kulit dan daging agak kehitaman sehingga harga jual masa remaja dan afkirnya relatif rendah
2. Sifat mengeram hampir tidak ada, sehingga butuh mesin tetas untuk menetaskan telurnya atau menggunakan jasa ayam induk ayam kampung, enthok atau yang lainnya.
3. Harus dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi tinggi sesuai dengan kemampuan genetisnya.
4. Bobot badan afkir rendah yaitu sekitar 1 - 1,2 kg
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum Manajemen Ternak Unggas ini adalah untuk mengetahui dan melatih diri praktikan dalam aplikasi real dari kegiatan manajemen pemeliharaan ternak unggas jenis ayam arab (petelur) di kandang percobaan laboratorium PTU Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
 Adapun manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah untuk menambah pengalaman, wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai penerapan manajemen pemeliharaan ternak ternak unggas jenis ayam arab (petelur) secara intensif dan terstruktur secara baik.






















TINJAUAN PUSTAKA


Pemeliharaan
Tatalaksana meliputi sistem perkandangan, pemberian air minum dan pakan, pencegahan penyakit, produksi serta pemasaran hasil produksi (Rasyaf, 1995).
Anggorodi (1995) bahwa pemeliharaan ayam secara intensife sering menimbulkan masalah karena telur yang dihasilkan banyak yang kuning telurnya pucat, padahal dengan mengatur pakannya masalah ini mungkin dapat diatasi.
 
Perkandangan
Abidin (2002) bahwa fungsi ventilasi adalah sebagai tempat aliran udara yang berguna memberikan suplai oksigen untuk kebutuhan pernapasan ayam sekaligus mengusir karbon dioksida dan ammonia keluar kandang.
Sugeng (1993) bahwa disamping lantai kandang terbuat dari kawat atau bambu juga dapat terbuat dari semen yang berfungsi untuk memudahkan peternak dalam membersihkan dan membuang kotoran.
Suharno (2003) bahwa sifat ayam yang peka terhadap kejutan pada perkandangan sistem koloni bisa dikurangi dan suasana menjadi lebih tenang sehingga ayam akan berproduksi lebih tinggi karena energinya tidak banyak terbuang untuk bergerak, telur menjadi lebih terjaga kebersihannya dan penularan penyakit antar ayam bisa dihambat.
Sumoprastowo (1980) menyatakan bahwa kandang baterai pada hakekatnya merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan

Konsumsi
 Rasyaf (1990), menyatakan bahwa pakan yang baik harus memiliki keseimbangan komposisi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Hartono (1997), menyatakan bahwa program pemberian pakan sangat tergantung pada rencana ayam itu dipanen.
Konversi
 Fadillan (2004), menyatakan bahwa beberapa penyebab konversi pakan tinggi adalah ayam sakit terutama terjangkit penyakit saluran pernapasan ,pakan banyak terbuang atau terjadi kebocoran kandungan gas amonia didalam kandang tinggi, temperatur dalam kandang tinggi dan kualitas pakan jelek.
 AAK (1986), menyatakan konversi pakan yaitu perbandingan jumlah yang habis dikomsumsi dengan produktivitas yang dicapai selama waktu tertentu dengan demikian dapat diketahui beberapa banyak pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produksi tertentu.

Kualitas telur
 Ahmad (1982), menyatakan bahwa untuk menentukan kualitas telur bisa dilihat dari kuning telur dan bisa juga dengan melihat dari telur putih jika masih pekat berarti kualitas telur tersebut masih bagus tetapi apabila sudah encer berarti telur tersebut sedah berkurang kualitasnya, untuk itu pengujian kualitas kuning telur bisa juga dengan kebulatan kuning teler tersebut.
Ketersediaan hasil ternak berupa daging, telur dan susu mengalami peningkatan dari tahun 2006 – 2007, pada tahun 2007 ketersediaan hasil ternak sebesar 22,9 kg/kapita/tahun sedangkan pada tahun 2006 sebesar 22,4 kg/kapita/tahun (Badan Pusat Statistik, Sunsenas 2007).
Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf (1991), dan Antonius Riyanto (2001), dinyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman meningkat.

Sanitasi
 Ahmad (1981), menyatakan bahwa sebelum memasukkan ayam kekandang terlebih dahulu kandang dibersihkan dahulu agar penyakit yang ada bisa mati dan juga bisa dengan cara menyemprot kandang dengan menggunakan rodalon untuk mematikan semua jenis penyakit yang ada pada kandang dan virus-virus yang ada dikandang.

MATERI DAN METODE


Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Ternak unggas ini dilaksanakan selama 5 hari untuk pemeliharaan,1 hari penyusunan ransum dan 1 hari pengamatan telur. pemeliharaan unggas (ayam arab) dimulai dari 19 Mei 2010 sampai 23 Mei 2010 yang bertempat di Laboratorium PTU Kandang Percobaan Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Pelaksaannya dimulai pada 07.30 WIB - 08.00 WIB dilanjutkan kembali pukul 16.00 WIB -17.30 WIB.

Materi
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Manajemen Ternak unggas (ayam arab) ini adalah selang, air, sekop pembersih, timbangan digital, timbangan, sepatu bot, cangkul, sapu lidi, ember, baskom, ayam arab berjumlah 100 ekor, ransum, tempat pakan , tempat minum, tempat telur, telur, EM4, sprayer, kandang cage, baju Lab. dan gelas takaran untuk pakan ayam arab

Metode
Dalam praktikum ini cara kerja yang dilakukan adalah pada pukul 07. 30– 08.00 WIB praktikan melakukan pemberian pakan pada ternak sesuai kebutuhan untuk pagi 5,5 kg dan pukul 16.00-17.30 WIB dilakukan pembersihan kandang, pengambilan telur dan pemberian pakan sejumlah 5,5 kg untuk sore hari. Setelah itu, dilakukan penghitungan telur untuk menentukan kualitas telur selama 5 hari berturut-turut. Kemudian kotoran (feces) yang dibersihkan di buang kedalam 2 lubang penampungan feces yang telah disediakan oleh setiap kelompok praktikan dengan perlakuan 1 diberi EM4 dan satunya lagi dibiarkan tanpa perlakuan (alami).
Pada saat pengamatan kualitas telur dilakukan kegiatan pemecahan dan pengukuran bagian-bagian telur dan pencatatan hasil pengamatan yang dibimbing oleh dosen mata kuliah Manajemen Ternak Unggas langsung.
HASIL DAN PEMBAHASAN


Kebutuhan akan protein hewani saat ini semakin meningkat. Ketersediaan hasil ternak berupa daging, telur dan susu mengalami peningkatan dari tahun 2006 – 2007, pada tahun 2007 ketersediaan hasil ternak sebesar 22,9 kg/kapita/tahun sedangkan pada tahun 2006 sebesar 22,4 kg/kapita/tahun (Badan Pusat Statistik, Sunsenas 2007). Hal ini dikarenakan semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya protein bagi tubuh dan daya beli masyarakat terutama terhadap produk unggas yang semakin baik. Kondisi ini merupakan peluang yang cukup besar bagi dunia peternakan untuk terus meningkatkan produktivitas ternak dan kualitas produk yang dihasilkan.
 Salah satu sumber protein hewani adalah telur yang berasal dari ayam petelur. Ayam arab petelur merupakan ternak berpotensi untuk dikembangkan karena mudah dan cepat berkembang serta memiliki kemampuan produksi yang cukup tinggi. Produk utama yang dihasilkan berupa telur dan produk ikutannya adalah daging. Produknya banyak dikonsumsi oleh masyarakat secara umum dengan harga yang terjangkau.
 Di dalam usaha peternakan ayam petelur ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar produksi yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan yaitu bibit, ransum dan tatalaksana pemeliharaan. Tatalaksana meliputi sistem perkandangan, pemberian air minum dan pakan, pencegahan penyakit, produksi serta pemasaran hasil produksi (Rasyaf, 1995).

a. Perkandangan dan Peralatan





Gambar 1. Laboratorium PTU Fakultas Peternakan Universitas Jambi Kandang
Percobaan
Perkandangan untuk pemeliharaan ayam arab sangat tergantung dari cara pemeliharaan itu sendiri. Pemeliharaan ayam secara ekstensif atau di lepas hanya memerlukan jenis perkandangan yang seadanya. Kandang hanya berfungsi untuk tidur pada malam hari. Jenis kandang untuk pemeliharaan secara semiintensif dibuat lebih baik dari kandang untuk pemeliharaan secara ektensif karena selain untuk tidur pada malam hari, kandang juga digunakan untuk sebagian aktivitas.
 Sementara kandang untuk pemeliharaan ayam arab secara intensif perlu mendapat perhatian khusus. Kandang dapat dibuat seperti pada kandang ayam ras karena pemeliharaan secara intensif, ayam arab akan di pelihara secara terus- menerus di dalam kandang. Sehingga kandang berfungsi sebagai tempat tinggal, aktifitas makan, minum, istirat dan berproduksi. Sistem- sistem kandang ayam ras petelur, yaitu sistem liter dan sistem sangkar.
Praktikum manajemen ternak unggas ini dilakukan di kandang percobaan produksi ternak unggas Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Perkandangan yang digunakan pada praktikum manajemen ternak unggas ini adalah menggunakan kandang sistem cage yang berisikan satu ekor ayam (single-bird cage).
Sistem kandang ayam petelur di Farm Fakultas peternakan Universitas Jambi adalah sistem terbuka dengan ukuran kandang keseluruhan 10 x 30 m2, sedangkan individual cage berukuran 30 x 40 x 30 cm3. Ukuran kandang ini sudah sesuai dengan pendapat (Rasyaf, 1995) bahwa ukuran baterai untuk ayan yang sedang bertelur bermacam-macam antara lain : 25 x 41 cm, 31 x 41 cm, 36 x 41 cm, 36 x 36 cm dan 91 x 122 cm. Ukuran kandang yang kekecilan akan menyebabkan ruang gerak ayam yang kecil sehingga ayam akan menjadi stress dan konsumsinya akan menurun, sedangkan ukuran kandang yang kebesaran akan menyebabkan ayam banyak bergerak dan energinya akan banyak keluar.
Kandang terbuka dibangun dengan tujuan agar sirkulasi udara dalam kandang dapat berjalan dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abidin (2002) bahwa fungsi ventilasi adalah sebagai tempat aliran udara yang berguna memberikan suplai oksigen untuk kebutuhan pernapasan ayam sekaligus mengusir karbon dioksida dan ammonia keluar kandang.
Penggunaan kandang individu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kandang individu adalah mudah dalam pengontrolan produksi dan kesehatan ayam, mudah mengetahui ayam mana yang akan diafkir, konsumsi mudah dikontrol, sifat kanibalisme dapat dihindari dan produksi lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharno (2003) bahwa sifat ayam yang peka terhadap kejutan pada perkandangan sistem koloni bisa dikurangi dan suasana menjadi lebih tenang sehingga ayam akan berproduksi lebih tinggi karena energinya tidak banyak terbuang untuk bergerak, telur menjadi lebih terjaga kebersihannya dan penularan penyakit antar ayam bisa dihambat. Sumoprastowo (1980) menyatakan bahwa kandang baterai pada hakekatnya merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan. Kandang baterai dipandang sebagai tempat yang baik untuk pemeliharaan ayam. Kekurangan panggunaan kandang individu adalah banyak membutuhkan tempat.
Atap kandang ayam petelur di Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi terbuat dari asbes yang berfungsi melindungi ayam dari air hujan dan terik matahari serta menyerap panas, sedangkan sistem atapnya adalah sistem atap monitor yang berfungsi menjaga agar keadaan udara di dalam kandang tetap stabil. Hal ini sesuai dengan pendapat Whendrato (1986) bahwa atap monitor berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kandang. Namun pemeliharaan ayam arab yang ada dikandang percobaan tidak menggunakan atap monitor. melainkan atap tertutup tanpa ada tambahan atap kecil yang perbatasannya terdapat rongga udara.
Lantai kandang terbuat dari semen dan posisinya dibuat agak miring agar lantai tidak becek akibat kotoran ayam. Hal ini didukung oleh pendapat Sugeng (1993) bahwa disamping lantai kandang terbuat dari kawat atau bambu juga dapat terbuat dari semen yang berfungsi untuk memudahkan peternak dalam membersihkan dan membuang kotoran.
Kandang ayam petelur di Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi cukup baik karena sudah memenuhi persyaratan yaitu konstruksi kandang sudah baik dan tidak mudah roboh, pertukaran udara di dalam kandang baik sehingga udara di dalam kandang selalu segar dan nyaman, kandang cukup terang sehingga mempermudah aktifitas di dalam kandang, sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam kandang, kandang mudah dibersihkan, tersedianya air yang cukup banyak, letak kandang cukup jauh dari perumahan penduduk.
Peralatan kandang seperti tempat air minum dan tempat pakan terbuat dari pipa plastik, lampu penerangan untuk malam hari, hal ini dikarenakan ayam petelur tidak membutuhkan cahaya yang banyak untuk proses pembentukan telur dan peralatan lain untuk membersihkan kandang seperti skop, serok dan sapu.













Gambar. 2 Bentuk Kandang dan Peralatan Kandang Lab. PTU Fakultas Peternakan
Untuk menghemat tempat maka perkandangan dibuat tiga deretan dan menggunakan triple deck, hal ini umum dilakukan. Untuk mencegah feses jatuh ke ayam dibawahnya dropping board dipasang di bawah cage yang di atasnya. Kandang yang seperti ini mungkin kurang cocok karena membutuhkan biaya yang lebih besar, hal ini sesuai dengan Research Universitas California (1977), yang mempublikasikan hasil experimentnya dengan membandingkan 1, 2, 3, dan 4 ayam dalam 12 inc (30cm) lebar dan 18 inc (45 cm) panjang/deep cage. Data dikumpul mulai umur 20 sampai 76 minggu dengan evaluasi ekonomi dari tingkat kepadatan dalam cage menunjukkan criteria utama berapa banyak ayam dalam cage yang ekonomis. Hasilnya menunjukan bahwa 3 (tiga) ekor ayam per cage menghasilkan yang terbaik. Penggunaan cage untuk memproduksi telur komersial sangat popular. Umumnya ayam dipindahkan atau naik cage pada umur 18 minggu. Dengan demikian ayam dalam cage cukup untuk recovery (sembuh) dari stress yang menyebabkan pindah sebelum produksi telur. Ada beberapa kelebihan pemakaian cage yaitu telur lebih bersih, mempermudah pemeliharaan, memudahkan pengafkiran (culling), penggunaan pakan lebih efisien, menghilangkan sifat mengeram, lebih banyak petelur yang dipelihara dengan luasan lantai tertentu, internal parasit dapat dihilangkan, kebutuhan tenaga lebih sedikit.
Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah cage sebagai tempat ayam, tempat pakan, tempat minum, sepatu bot, timbangan, gelas takaran untuk pakan ayam, ember, sekop, selang air, air, sapu, dan EM4 (Efektifitas Mikroorganisme 4) dan sprayer.

b. Produksi Telur
  Ayam arab memiliki beberapa keunggulan. Ayam arab jantan memiliki bobot tubuh rata-rata 1.500-1.800 gram / ekor, sedikit lebih berat daripada betina yang hanya 1.100-1.500 gram. Bobot ini tak jauh berbeda dari ayam buras yang ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, telur ayam arab juga mirip dengan ayam buras, baik ukuran maupun warnanya. Sulit membedakan mana telur ayam kampung dan telur ayam arab, jika keduanya didekatkan. Berdasarkan penelitian, ternyata kandungan gizi telur ayam arab juga nyaris sama dengan telur ayam kampung. Bahkan rasa dagingnya pun tidak berbeda. Jauh lebih lezat dan lebih gurih daripada ayam ras.Yang membuat ayam ini''mengungguli'' ayam kampung adalah produksi telurnya. Dalam berbagai penelitian, ternyata ayam ini termasuk tipe petelur unggul. Setiap tahun, seekor induk betina sanggup menghasilkan 280 butir telur. Bandingkan dengan ayam kampung yang hanya bertelur 70 butir/tahun dalam pemeliharaan ekstensif, atau 155-160 butir/tahun dalam pemeliharaan intensif. Kini, ayam arab tak lagi diposisikan sebagai ayam hias, tapi sengaja dipelihara sebagai ayam kampung petelur. Apalagi masyarakat Indonesia memiliki mitos tersendiri mengenai telur ayam kampung, yang dianggap lebih ''josss'' ketimbang telur ayam ras.
  Setiap ayam komersil mempunyai kemampuan potensial turunan karakter kuantitatif genetiknya. Contoh adanya gen yang mempengaruhi produksi telur. Jika manajemen dilakukan secara benar maka gen tersebut akan memperlihatkan kemampuan sebenarnya.
  Produksi telur yang dihasilkan selama pemeliharaan adalah berkisar antara 55% - 66%. Lebih dari 50% ayam yang bertelur (produksi telur) yang diperoleh selama 5 hari dengan menerapkan pola manajemen pemeliharaan yang baik dan teratur.
 




Gambar 3. Produksi Telur Ayam Arab

i. Henday
  Hen day adalah suatu cara yang digunakan untuk mengukur produksi telur pada suatu hari produksi. Hen day merupakan indikator yang paling tepat dalam melihat produksi ayam yang sedang bertelur. Sehingga kita bisa memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh selama pemeliharaan dan melakukan koreksi atas manajemen pemeliharaan yang lebih baik dan tertata rapi untuk hasil yang optimal.
  Hasil henday yang diperoleh adalah sebagai berikut:
a. Pada Hari Rabu, 19 Mei 2010
 Henday = 56 %
b. Pada Hari Kamis, 20 Mei 2010
 Henday = 55 %
c. Pada Hari Jumat, 21 Mei 2010
 Henday = 66 %
d. Pada Hari Sabtu, 22 Mei 2010
 Henday = 55 %
e. Pada Hari Minggu, 23 Mei 2010
 Henday = 64 %
  Henday tertinggi dicapai pada hari jum`at dan minggu, yakni 66% dan 64%. Hal ini dikarenakan sistem manajemen yang dilakukan sangat baik dan maksimal tertutama dalam segi kebersihan kandang. Kebutuhan akan air, pakan yang cukup, pencahayaan, udara serta suhu juga menjadi pertimbangan atas keberhasilan dalam produksi telur yang cukup tinggi tersebut.

ii. Henhouse
  Henhouse hampir tidak berarti dalam periode yang singkat. Hen-house terutama digunakan untuk menyimpulkan atau melihat performance flock (ayam) dalam keseluruhan dalam satu siklus peneluran. Dalam pemneliharaan yang telah dilakukan pada kelompok 1 sampai pada kelompok 4 tidak ada ayam satupun yang mengalami kematian. Sehingga jumlah ayam awal 100 ekor tetap sama hingga akhir yaitu 100 ekor ayam yang hidup. Artinya tingkat kematian (mortilitas) adalah 0%.
  Henhouse yang diperoleh hasilnya sebagai berikut:
a. Pada Hari Rabu, 19 Mei 2010
 Henhouse = 56 %
b. Pada Hari Kamis, 20 Mei 2010
 Henhouse = 55 %
c. Pada Hari Jumat, 21 Mei 2010
 Henhouse = 66 %
d. Pada Hari Sabtu, 22 Mei 2010
 Henhouse = 55 %
e. Pada Hari Minggu, 23 Mei 2010
 Henhouse = 64 %


c. Pemberian Pakan
 Makanan merupakan salah satu unsur terpenting dalam usaha peternakan. Hampir 70% biaya produksi digunakan untuk biaya pakan. Makanan yang diberikan pada ayam sangat menentukan tingkat keberhasilan suatu usaha peternakan. Selain untuk kebutuhan hidup pokok, makanan pada ayam petelur juga berfungsi untuk ayam berproduksi yaitu menghasilkan telur. Memberi makanan pada ayam arab untuk tujuan produksi adalah usaha pemeliharaan untuk mendapatkan telur selama selang waktu tertentu secara ekonomis. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang butuhkan ayam dapat mengakibatkan rendahnya produksi telur. Oleh karena itu kita harus mengetahui kebutuhan ayam tersebut. Hal ini didukung oleh pendapat Rasyaf (1990), yang menyatakan bahwa pakan yang baik harus memiliki keseimbangan komposisi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bila kebutuhan zat makanan tersebut telah terpenuhi dengan baik akan memberikan hasil yang baik pula.
i. Komposisi / Pencampuran pakan
Komposisi ransum sangat menentukan kualitas ransum. Sebaiknya komposisi ransum haruslah memenuhi standar kebutuhan ternak (ayam arab). Dalam menyusun ransum, kita terlebih dahulu harus mengetahui kandungan nutrisi dari bahan-bahan penyusun ransum tersebut. Pada praktikum manajemen ternak unggas (ayam arab) ini, ransum yang diberikan adalah dengan komposisi sebagai berikut:
Table 1. Komposisi Ransum Ayam Arab (petelur)
Bahan Jumlah
Konsentrat 17 kg
Jagung 26 kg
Dedak 13 kg
Mineral 1 kg (1 bungkus)
Vitamin 0,125 (1/2 kg)
 Dari tabel komposisi ransum diatas dapat dilihat bahwa komposisi ransum yang digunakan untuk pakan ternak bukan hanya untuk sekedar kebutuhan hidup pokok dan untuk berproduksi saja, tetapi juga untuk memperhatikan kualitas telur yang akan dihasilkan oleh ternak (ayam arab). Menurut Anggorodi (1995) Pemeliharaan ayam secara intensif sering menimbulkan masalah karena telur yang dihasilkan banyak yang kuning telurnya pucat, padahal dengan mengatur pakannya masalah ini dapat diatasi. Karena warna kuning telur yang dihasilkan dipengaruhi oleh kandungan pigmen karotenoid dalam ransumnya, biasanya banyak terkandung pada hijauan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan telur yang kualitas kuning telurnya lebih baik maka kita harus memperhatikan komposisi ransum yang akan kita berikan kepada ternak yaitu yang mengandung pigmen karotenoid, ini sesuai dengan pendapat Muchtadi dan Sugiono (1989) yang menyatakan bahwa Pigmen karotenoid akan memberikan warna kuning pada telur, pigmen tersebut terdiri atas kriptoxantin, xantopil, carotene dan vitamin A. Dari tabel komposisi ransum di atas, yang mengandung pigmen karotenoid adalah jagung, ini sesuai dengan pendapat Pakasi (1985) yang menyatakan bahwa sumber pigmen karotenoid paling penting bagi unggas penelur adalah tepung hijauan, jagung dan tepung alfafa. Sumber pigmen karotenoid biasanya ditemukan pada jagung kuning.
ii. Jumlah Pemberian
Makanan sangat penting dalam menunjang pertumbuhan ayam. Rendahnya produksi telur juga dapat disebabkan karena peternak tidak memberikan makanan sesuai dengan yang dibutuhkan ayam. pada praktikum manajemen ternak unggas ini ransum disusun sebanyak 55 kg dan system pemberian pakannya adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Pemberian pakan Ayam Arab
Hari Jumlah ayam Pemberian pakan/ekor/hari (gr) Total pemberian/hari (kg)
1 110 11
2 110 11
3 100 110 11
4 110 11
5 110 11
Total 100 550 55

 Pakan diberikan 2 kali sehari yaitu, pagi dan sore hari. Pada pagi hari pakan diberi sebanyak 5,5 gr dan pada sore hari lagi diberikan 5,5 gr. Jadi pemberian pakan/ekor/hari adalah 11 gr dan total pemberian pakan/ hari adalah 11000 gr karena jumlah ayamnya adalah 100 ekor. Jadi selama praktikum dilaksanakan (5 hari) pakan yang diberikan adalah 55000 gr = 55 kg
iii. Konsumsi Pakan
 Konsumsi pakan adalah selisih antara ransum yang di berikan dengan ransum sisa. Konsumsi pakan adalah faktor esensial yang merupakan dasar untuk hidup dan menentukan produksi. Pada praktikum Manajemen Ternak Unggas ini diperoleh konsumsi ransum (pakan) adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Konsumsi Pakan Ayam Arab
Hari Jumlah pemberian pakan (gr) Sisa pakan (gr) Konsumsi pakan (gr)
1 11000 600 11000
2 11000 400 11000
3 11000 300 11000
4 11000 200 11000
5 11000 500 11000
 
  Keterangan:
1. Pakan yang dikonsumsi adalah 53000 gr atau 53kg
2. Jumlah ransum yang disusun adalah 55 kg
3. Maka sisa pakan 55 kg – 53 kg = 2 kg
 Dari data di atas dapat diketahui bahwa tingkat konsumsi ternak (ayam arab) cukup baik. Kemampuan ayam arab untuk mengubah zat makanan yang dikonsumsinya menjadi telur cukup baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi yaitu ternak itu sendiri, makanan yang diberikan dan lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara. Kebutuhan pakan dan gizi telah mencukupi sehingga pakan yang dikonsumsi memberikan kontribusi bagi produksi telur yang dihaslkan selama pemeliharaan.
iv. Konversi Pakan
  Untuk mengukur konversi pakan maka kita harus memperhatikan jumlah ransum yang telah dihabiskan untuk menghasilkan telur dengan bobot dari telur yang diperoleh.
  Rumus Konversi Pakan adala:
  KP = Ransum yang dihabiskan untuk produksi telur (kg)
  Bobot telur yang dihasilkan (kg)

  Jumlah bobot telur selama 5 hari =15,78
  Rata-rata bobot telur adalah = 15,78/5
  = 3,156
  KP = 55 = 3, 48
  15,78
  Dalam praktikum yang telah dilakukan selama 5 hari pemeliharaan unggas (ayam arab) diperoleh konversi pakan sebesar 3, 48.

d. Pengukuran Kualitas Telur





Gambar 4. pengukuran kualitas telur
Tujuan memelihara ayam arab adalah untuk menghasilkan telur, dengan demikian kualitas telur sangat penting dan menentukan dalam pemasaran hasil usaha. konsumen cendrung memilih telur yang mempunyai kualitas baik. Aspek yang menjadi pertimbangan konsumen adalah kualitas telur yang baik dan warna kuning telur yang tidak pucat serta kebersihan kerabang telurnya. Pemeliharaan ayam secara intensif sering menimbulkan masalah karena telur yang dihasilkan banyak yang kuning telurnya pucat. Ada beberapa cara menentukan kualitas telur yaitu:
i. Grading ( berdasarkan berat telur )
Walaupun hen-day adalah indikator yang paling bagus untuk melihat produksi ayam yang sedang bertelur, namun ini tidak mempertimbangkan ukuran besar telur dan kualitas telur. Begitu juga dengan hen-house juga tidak reliable karene termasuk dalamnya produksi telur dan tingkat kematian komulatif dalam flock dan juga tidak mempertimbangkan ukuran dan kualitas telur. Memang di Indonesia penjualan telur masih berupa butiran, bukan berdasarkan berat dan ukuran. Namun, jika kita menjual telur untuk ekspor tentu kita harus memperhatikan ukuran berat telur, karena di Negara-negara lain penjualan telur berdasarkan berat telur ini sesuai dengan pendapat Shalev dan Pasternak (1993) yang menyatakan bahwa berat telur sangat penting secara ekonomis sebab sangat menentukan “market grade”. Di Argentina dan USA peningkatan sebesar satu gram dalam berat dapat memperbaiki “grade”, dan sehingga meningkatkan pendapatan sebesar 4-5%. Ada beberapa pembagian telur berdasarkan ukuran (berat) menurut Robert E.M dan John S.A (1985) yaitu jumbo dengan berat ≥ 68,5 gram, extra large ≥ 61,4 gr - 68,4 gram, large ≥ 54,3 gr – 61,3 gr, Medium ≥47,2 gr – 54,2gr, Small ≥40,2 gr – 47,1 gr, sangat kecil yaitu telur yang mempunyai berat ‹ 40,1 gram. Selama praktikum dilaksanakan maka didapat hasil produksi telur dengan berbagai ukuran sebagai berikut:
Tabel 4. Penentuan kualitas telur berdasarkan berat telur
No/ Hari Sangat Besar
( Jumbo)
≥ 68,5 Gr Telur Lebih Besar
( Extra Large )
≥61,4 Gr – 68,4 Gr Telur Besar
( Large)
≥54,3 Gr – 61,3gr Telur Sedang
(Medium)
≥47,2 Gr – 54,2 Gr Telur Kecil
( Small)
≥40,2 Gr- 47,1 Gr Sangat Kecil
> 40,1 Gr
1 0 0 3 30 20 3
2 0 0 6 30 15 0
3 0 0 1 34 37 1
4 0 0 2 27 30 1
5 0 0 3 22 35 1
Total 0 0 18 143 137 6
Persentase (%) 0 0 5,92 % 47,03 % 33,9 % 0,74 %
Dari tabel produksi telur di atas dapat dilihat bahwa telur yang diproduksi oleh ayam arab pada waktu praktikum manajemen ternak unggas masih belum baik. Telur yang dihasilkan sebagian besar berukuran kecil, hanya beberapa yang berukuran besar. Ini mungkin disebabkan oleh strain, ransum yang di berikan, umur bertelur pertama,temperature, dan bobot badan ayam tersebut, ini sesuai dengan Erlangga (2010) yang menyatakan Kebanyakan masyarakat memanfaatkan Ayam Arab karena produksi telurnya tinggi, mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 gram.



Gambar 5. pengukuran kualitas kuning telur
Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Jadi ayam arab ini fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja. Dan sesuai dengan pendapat Tri yuwanta (2001) yang menyatakan bahwa yang mempengaruhi berat telur adalah strain of birds, age at first egg, environmental temperature, egg size when birds kept in cages, laying ration, and size of pullet in the flock.
ii. Haugh Unit
Pada praktikum ini kita menentukan tinggi albumen tertinggi, tinggi albumen terendah, dan rata-rata tinggi albumen. Dalam hal ini ini kita hanya memilih beberapa sampel telur yang akan dilihat kualitasnya. Dari pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 5. Haugh unit telur Ayam Arab
Parameter Umur 20 hari Rata - rata Umur 1 hari Rata - rata
 TELUR TELUR TELUR TELUR
Berat telur (W) (gr) 44 44 44 60 55 57,5
Berat Kuning Telur gr 16 19
Berat Putih Telur gr 18 29
Berat Kerabang gr 5 7
Lebar ( diameter telur) (cm) 39,63 38,44 39,035 45,58 42,20 43,85
Panjang Telur (cm) 51,41 55,86 53,635 56,51 54,71 56,51
Index Bentuk Telur = lebar : panjang
Note.Indek bentuk telur edeal=0,74 0,77 0,68 0,72 0,80 0,77 0,77
Tinggi albumen tertinggi (mm) 1,29 0,41
Tinggi albumen terendah (mm) 0,40 0,49
Rata-rata tinggi albumen (H) 0,845 0,45
Jadi, haugh unit nya adalah sebagai berikut:
HU = 100 log (H+7.57-1,7.W0,37¬)
HU telur umur 20 hari = 100 log ( 2,54+7.57-1.7.0,8450,37)
  = 18, 33

HU telur umur 1 hari = 100 log (4,59+7.57-1.7. 0,450,37)
  = 5,31
Dari data di atas dapat dilihat bahwa pada umur 1 hari tinggi albumen telurnya lebih tinggi dari pada albumen telur yang berumur 20 hari ini disebabkan oleh adanya penguapan CO2 yang ada di dalam telur, sehingga semakin lama telur disimpan maka albumennya semakin encer. Ini sesuai dengan pendapat Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, diantaranya adalah Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf (1991), dan Antonius Riyanto (2001), dinyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman meningkat. Penguapan yang terjadi juga membuat bobot telur menyusut, dan putih telur menjadi lebih encer. Masuknya mikroba ke dalam telur melalui pori-pori kulit telur juga akan merusak isi telur.



Gambar 6. Pengukuran telur (Haugh Unit)
iii. Tebal Kerabang




Gambar 7. Pengukuran Tebal Kerabang telur
  Kerabang telur merupakan pelindung yang alami bagi telur ayam. jadi untuk mendapatkan telur yang baik maka kerabang atau cangkang telur haruslah bersih dan juga tebal. Sebab telur yang akan kita pasarkan yang pertama terlihat di mata konsumen adalah kerabangnya. Bila kerabangnya kotor ataupun retak, maka selera konsumen untuk membelinya akan rendah bila dibandingkan dengan kerabang telur yang bersih. Selain itu, kerabang telur yang kotor memungkinkan mikroorganisme atau bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit dan tidak aman untuk dikonsimsi. Jadi kualitas kerabang telur juga menentukan kualitas telur tersebut. Pada praktikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil sebagai berikut.

iv. Indeks Warna Kuning Telur
  Pengukuran indeks telur dilakukan dengan standar warna. Setelah dilakukan pengukuran maka hasilnya adalah pada umur 20 hari didapat indeks warna kuning telur 7 dan pada umur 1 hari didapat indeks warna . Semakin tinggi indeks warna maka kuning telur, maka akan semakin cerah. Dilihat bahwa kuning telur yang paling cerah adalah pada telur umur 1 hari, semakin lama penyimpanan telur maka indeks pada warna kuning semakin rendah. Telur yang memilih indeks warna yang rendah akan memliki kualitas yang rendah juga. Hal ini terjadi karena kuning telur sudah mulai menyerap putih telur.

Telur 1 hari

Telur 20 hari
Gambar 8. Telur 1 hari dan 20 hari






Gambar 9. Kipas Pengukur Warna Kuning Telur

Pengukuran indeks telur dilakukan dengan standar warna. Setelah dilakukan pengukuran maka hasilnya adalah pada umur 20 hari didapat indeks warna kuning telur 7 dan pada umur 1 hari didapat indeks warna 9. Semakin tinggi indeks warna maka kuning telur, maka akan semakin cerah. Dilihat bahwa kuning telur yang paling cerah adalah pada telur umur 1 hari, semakin lama penyimpanan telur maka indeks pada warna kuning semakin rendah. Telur yang memilih indeks warna yang rendah akan memliki kualitas yang rendah juga. Hal ini terjadi karena kuning telur sudah mulai menyerap putih telur.
 
III. PENANGANAN LIMBAH
 Pada praktikum ini dilakukan perlakuan terhadap kotoran ayam (feces). Kotoran ayam ditampung dalam dua lubang yang digali ±1 meter kedalaman tanah. Dilakukan dengan dua perlakuan yaitu lubang pertama dibiarkan tanpa memberi EM4 (dibiarkan saja tanpa ada perlakuan). Sedangkan pada perlakuan yang kedua dilakukan penyemprotan EM4 (efektifitas mikroorganisme). Dalam proses pengomposan dapat ditambahkan starter yang sudah beredar di pasar antara lain Starbio, EM4 dan bahan lain dengan maksud mengoptimalkan manfaat dan kandungan unsur hara dari pupuk organik tersebut. Starter tersebut dapat dipergunakan EM4, Starbio atau jenis lain yang telah beredar di pasar ditambah dengan beberapa bahan berupa kapur, abu, serbuk gergaji, sekam dan lain-lain.




Gambar 10. Feces menggunakan EM4 dan Tanpa EM4
 Pembuatan Lubang
Sebelum pelaksanaan praktikum dimulai praktikan terlebih dahulu membuat lubang yang berukuran ±1 m2 untuk penampungan feces. Lubang dibuat 2 buah yang mana kedua lubang ini mendapat perlakuan yang berbeda-beda, yaitu salah satu lubang dimasukkan EM4 dan lubang yang satu nya lagi tanpa perlakuan (tanpa menggunakan EM4).

a. Pengamatan Perlakuan EM4
Setiap pagi selama 1 minggu praktikan melakukan pembersihan kandang. Feses ayam dibersihkan dan dimasukkan ke dalam lubang yang sudah dibuat, lalu kandang disiram dengan air. Setelah disiram lalu dilakukan penyemprotan EM4 ke cage, lantai kandang, dan salah satu lubang yang berisi feses.



Gambar 11. Feces diberi EM4 dan Tanpa pemberian EM4
Dari pengamatan pada praktikum manajemen ternak unggas yang sudah dilaksanakan, terlihat bahwa dengan adanya perlakuan pemberian EM4 terhadap kandang dan feses ayam selam beberapa hari sangat berbeda dengan tanpa EM4. yang diberi EM4 feces terlihat lebih terang tanpa ada banyak belatung sedangkan pada perlakuakan tanpa EM4 terlihat berwarna gelap, berbau menyengat dan terdapat banyak belatung, di dalam kandang maupun didalam lubang pemberian EM4 dapat mengurangi amoniak. Sebagaimana kita ketahui bahwa selama ini bau amoniak merupakan masalah besar yang dihadapi oleh semua usaha peternakan.



Gambar 12. EM4
 Keuntungan-keuntungan yang didapat apabila dilakukan penyemprotan EM4 adalah:
1. Mengurangi bau yang tidak sedap (busuk) pada lingkungan peternakan
2. Menghilangkan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang ada pada Kotoran Ternak Segar (KTS) atau mengoptimalkan kesan kotor kegunaan kotoran ternak sebagai penyubur tanaman dan menjaga keseimbangan MO
3. Menghilangkan kesan kotor/menjijikkan dan mengutangi jumlah lalat
4. Menghilangkan agen pathogen atau bibit rumput liar yang ada pada ternak
5. Meningkatkan nilai jual pupuk untuk tambahan pendapatan peternak.

IV. PENANGANAN PENYAKIT
Masalah yang timbul dan berkaitan dengan penyakit sering kali tidak sederhana, sedangkan kita harus memecahkannya, terlebih bila menyangkut penyakit serius. Misalnya setiap hari, ayam mati satu demi satu karena terkena tetelo atau berak kapur. Sepintas kejadian ini karena masalah tekhnis peternakan. Memang hal itu benar, tetapi mengapa sampai terjadi? Di sinilah letaknya kita harus memahami inti persoalan sebenarnya. Dengan mengetahui penyebab hingga kejadian tersebut dapat terjadi maka dapat dikendalikan penyakit tersebut (tidak bertambah banyak). Namun, untuk ayam yang sakit, perlu diupayakan penyembuhannya. Karena ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan maka jalan terbaik yaitu dengan dilakukan pencegahan seperti sanitasi dan vaksinasi. Tindakan pencegahan (preventif) adalah upaya yang harus dilakukan sebelum datang dan berjangkitnya penyakit yang merugikan ternak bahkan peternak itu sendiri. Program Biosecurity yang baik akan membantu dalam memperoleh hasil yang baik pula. Oleh kerena itu, Bio security harus benar-benar dijalankan sebaik mungkin untuk terwujudnya ayam sehat dan konsumen menjadi lebih aman untuk mengkonsumsinya.
a. Jenis Penyakit yang ada
Pada praktikum Manajemen Ternak Unggas ini dilaksanakan tidak ditemukan penyakit yang menyerang ternak secara serius bahkan sampai mati. Hal ini di buktikan dengan tidak adanya 1 ekor ayampun yang mati selama pemeliharaan. Tingkat mortalitasnya adalah 0% dan ayam yang hidup 100%. Peristiwa ini disebabkan oleh sistem manajemen pemeliharaan yang cukup baik.
b. Pengobatan dan Pencegahan Penyakit
Pada praktikum manajemen ternak unggas ini dilaksanakan praktikan tidak pernah melakukan pengobatan, karena tidak ditemukan penyakit yang menyerang ternak (ayam arab) yang di gunakan untuk praktikum di kandang percobaan ternak unggas Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Namun praktikan hanya melakukan pencegahan terhadap berbagai jenis penyakit yang mungkin menyerang ayam.
Proses pencegahan penyakit dimulai dengan melakukan pembersihan kandang dan peralatan kandang. Feces ayam dikumpulkan kedalam suatu wadah dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat. Lalu kandang dengan perlakuan yangtelah disiapkan disiram dengan air. Setelah disiram lalu dilakukan penyemprotan EM4 ke cage, lantai kandang, dan salah satu lubang yang berisi feses. Penyemprotan ini bertujuan untuk mengurangi amoniak yang dihasilkan dari kotoran unggas (feces).
Amoniak ini merupakan masalah terbesar dalam suatu usaha peternakan di dunia. Gas yang dihasilkan dari Amoniak ini menyumbang pemanasan global (global warming) didunia ini secara nyata. semakin tinggi feces yang dihasilkan maka tingkat amoniak akan semakin tinggi pula. Sehingga penekanan terhadap tingginya amoniak ini telah banyak dilakukan oleh para ahli. Diantaranya dengan penggunaan probiotik, zeolit, kapur, antibiotik, formaldehyde dan sebagainya.
Amoniak ini dapat membuat protes dari masyarakat dan dapat membawa penyakit bagi ternak antara satu dan yang lainnya. Dengan pemberian EM4 maka amoniak ini dapat dikurangi karena EM4 ini terdapat bakteri non patogen yang dapat menjaga keseimbangan mikroorganisme patogen sehingga ayam akan terlindung dari ancaman penyakit. Penggunaan probiotik (EM4) untuk pencegahan terhadap penyakit sangat baik jika dibandingkan dengan menggunakan antibiotic. Karena penggunaan anti biotic dapat menyebabkan residu pada ternak , berbahaya bagi konsumen dalam jangka panjang dan penggunaannya telah dilarang dibeberapa negara.


Analisi Usaha Ayam Arab
Penyilangan atau populer dengan sebutan Crossing juga dilakukan oleh peternak dengan mengawinkan pejantan ayam Arab dengan betina jenis lokal lainnya seperti kate dan white leg horn (ayam ras). Namun kegiatan ini umumnya masih dalam bentuk ujicoba, tetapi yang sudah bisa dilihat hasilnya adalah penyilangan pejantan ayam Arab dengan betina kampung.
Bagi peternak pemula yang mau coba-coba beternak ayam Arab untuk dijadikan ayam petelur, disarankan memelihara sedikitnya l50 ekor piyek (anak ayam Arab umur satu bulan). Setelah berusia selama lima bulan, ayam mulai bertelur dan ini saat yang menggembirakan karena bisa memanen hasilnya.
Memang keuntungan bersih yang diperoleh selama empat bulan dari 150 ekor ayam itu, tergolong kecil yakni hanya sekitar Rp525.000. Angka itu belum termasuk hasil dari kotoran ayam yang bisa dijual dengan harga Rp3.500 per karung. Keuntungan pasti dari kotoran ayam memang sulit dihitung karena jarang bahkan mungkin tidak pernah dibukukan.
Selain pemasukan dari pupuk kandang, peternak masih bisa mendapatkan keuntungan apabila pakan ternak sebagian dibuat sendiri. Maksudnya tidak 100 persen menggunakan pakan pabrik. Membuat pakan sendiri bisa menghemat hingga 50 persen dibandingkan menggunakan pupuk pabrik. Kalau ayam petelurnya tidak produktif lagi bisa dijual ke pasar sebagai ayam potong.
Jadi kesimpulannya, beternak ayam Arab masih menjanjikan. Bagi anda yang ingin memelihara ayam Arab untuk sekadar menyalurkan hobi bisa membeli ayam Arab dara per ekornya berharga Rp30.000. Untuk ini ada dua keuntungan yang diperoleh, yaitu mendapatkan telurnya karena ayam betina akan bertelur pada usia lima bulan.
Siapa tahu, berawal dari hobi lama-lama bisa menjadi peternak yang berhasil. Sebab menurut keterangan Tugiyo, sebagian besar anggota kelompoknya beternak ayam awalnya hanya sebagai hobi. Tetapi lama kelamaan justru menjadi mata pencaharian yang bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga. Bahkan lebih dari itu, untuk memenuhi gizi keluarga tidak perlu harus membeli. Cukup memotong satu atau dua ekor ayam Arab piaraan sendiri, rasa dagingnya tidak kalah dengan rasa daging ayam kampung biasa.

Analisa Usaha Beternak Ayam Arab
Beli piyek umur satu bulan dan usia lima bulan mulai bertelur. Biaya yang harus dikeluarkan selama empat bulan dalam pemeliharaan sebesar Rp2.850.000 dan keuntungan bersih yang didapat Rp525.000. Perhitungannya sebagai berikut:
Contoh perhitungan analisis usaha ayam arab secara kasar
• Harga piyek l50 x Rp5.000 = Rp 750.000
• Pakan = Rp 1.800.000
• Obat-obatan = Rp 100.000
• Air minum (air PDAM) = Rp 120.000
• Listrik (penerangan/pemanasan) = Rp 80.000
• Jumlah = Rp 2.850.000
• Harga jual telur = Rp 3.375.000
• Keuntungan bersih selama empat bulan = Rp 525.000

Dalam pemeliharaan yang dilakukan oleh prakrikan pada ayam arab yang dipelihara dalam laboratorium produksi ternak unggas fakultas petenakan kandang percobaan di universitas jambi berjumlah 100 ekor dengan sistem kandang cage.
 Perhitungan biaya
Harga piyek l00 x Rp5.000 = Rp 500.000
Harga ayam betina siap produksi 100 x 50.000 = Rp 5.000.000
Pakan
 konsentrat 17 x 6.000 = 102.000
 jagung 26 x 3.400 = 88.400
 dedak 13 x 1.500 = 19.500
 mineral 1 x 6.000 = 6.000
 vitamin 0,125 (1/2 bks)x 23.000= 23.000
Total biaya pakan = Rp. 238.900
EM4 1 botol = Rp. 20.000

Biaya pendapatan
 Produksi telur = 296 x 1200
  = Rp. 355.200
 Harga Pupuk = 5.000/karung

Keuntungan
Keuntungan dapat di peroleh dari penjualan pupuk yang diperoleh (disesuaikan dengan jumlah pupuk / kotoran yang diperoleh tiap karungnya) dengan harga penjualan Rp 5.000/ karung dan diperoleh pula keuntungan yang berasal dari produksi telur selama pemeliharaan kemudian di kurangi dengan modal awal. Biaya pengeluaran pakan dengan cara menyusun ransum sendiri dapat menghemat biaya dibandingkan dengan membeli pakan yang sudah ada (pakan jadi). Penulis sendiri pernah mencoba memelihara ayam arab (petelur) golden dan silver dalam skala kecil (100 ekor) dengan sistem pemeliharaan di kandang dan hasilnya adalah menguntungkan. Selamat mencoba berwirausaha ayam arab (petelur) dan semoga sukses.

























PENUTUP


Kesimpulan
Untuk mendapatkan produksi yang baik maka perlu dilakukan manajemen pemeliharaan yang baik pula serta didukung oleh genetik ataupun lingkungan saat pemeliharaan itu sendiri. Ukuran telur berdasarkan grading (berat telur) yang tertinggi adalah 47,5 % untuk ukuran sedang dan terendah 1,9% ukuran kecil. Produksi telur ayam arab selama 5 hari pemeliharaan bekisar antara 55-66% begitu pula dengan henday dan henhousenya berkisar antara 55-56% dengan tanpa penyakit maupun mortalitas dalam pemeliharaan.

Saran
Sebelum dilakukan praktikum sebaiknya praktikan terlebih dahulu memahami dan menguasai materi yang akan diuji agar praktikum yang akan dilakukan dapat berjalan dengan tertib. Kemudian semoga ditemukannya alat yang dapat berguna untuk mengurangi atau menekan amoniak yang dihasilkan dari kotan ternak sehingga tidak lagi memberikan ancaman pencemaran atau pemanasan global di dunia ini.








DAFTAR PUSTAKA


AAK .1995. Pemeliharaan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.

Bambang, A. 1998. Beternak Ayam Broiler Komersial. Gramedia. Jakarta.

Bell .1990. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta.

Fadillah .2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia. Jakarta.

Parokkasi, A. 1999. Pembibitan Ayam Ras Penebar. Swadaya. Jakarta.

Prawirokosumo.S. 1999. pemeliharaan Ternak Unggas. Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya. Malang.

Rasyaf .M. 1992. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Rasyaf. M. 2002. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sturkie. 1987. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

www.sentralternak.com.

http://1bisnisunggulan.blogspot.com/2008/12/sejumlah-peternak-unggas 15/06/2010
















LAMPIRAN I


KUALITAS TELUR


NO.
PARAMETER
Umur 20 hari Rata - rata Umur 1 hari Rata - rata
  TELUR TELUR TELUR TELUR
I Berat telur (W) (gr) 44 44 44 60 55 57,5
 Berat Kuning Telur gr 16 19
 Berat Putih Telur gr 18 29
 Berat Kerabang gr 5 7
II Lebar ( diameter telur) (cm) 39,63 38,44 39,035 45,58 42,20 43,85
 Panjang Telur (cm) 51,41 55,86 53,635 56,51 54,71 56,51
 Index Bentuk Telur = lebar : panjang
Note.Indek bentuk telur edeal=0,74 0,77 0,68 0,72 0,80 0,77 0,77
III Tinggi albumen tertinggi (mm) 1,29 0,41
 Tinggi albumen terendah (mm) 0,40 0,49
 Rata-rata tinggi albumen (H) 0,845 0,45
 Haught Unit
HU=100 log (H+7.57-1,7.W0.37) 18,33 5,31
IV Lebar Albumen terpanjang (mm) 76,862 278,72
 Lebar Albumen Terpendek (mm) 82,68 37,11
 Rata – rata 79,771 157,91
 Albumen Index
Rata – rata tinggi : rata-rata lebar
V Tinggi Kuning Telur (mm) 9,57 18
 Lebar Kuning Telur (mm) 52,69 47,46
 Yolk Index = Tinggi : Lebar 0,18 0,37
 
VI Index Warna Kuning Telur 7 8
VII Tebal Kerabang Pengukuran I (mm) 0,38 0,44
 Tebal Kerabang pengukuran II (mm) 0,37 0,38
 Tebal Kerabang pengukuran III (mm) 0,42 0,39
 Rata-rata
 Note. Rata-rata Tebal Kerabang Telur Coklat = 0,51mm. tebal kerabang <0,33mm=tipis telur untuk dipasarkan
VIII Diameter Air Cell ( kantong udara) mm 21,60 12,20
 Kedalam Air Cell (kantong udara ) mm 9,22 4,49








































LAMPIRAN II


PENENTUAN KUALITAS TELUR BERDASARKAN BERAT TELUR ( GRADING )
( Robert E.M dan John S.A 1985 )

No/ Hari Sangat Besar
( Jumbo)
≥ 68,5 Gr Telur Lebih Besar
( Extra Large )
≥61,4 Gr – 68,4 Gr Telur Besar
( Large)
≥54,3 Gr – 61,3gr Telur Sedang
(Medium)
≥47,2 Gr – 54,2 Gr Telur Kecil
( Small)
≥40,2 Gr- 47,1 Gr Sangat Kecil
> 40,1 Gr
1 3 30 20 3
2 6 30 15 0
3 1 34 37 1
4 2 27 30 1
5 3 22 35 1
Total 0 0 15 143 137 6
Persentase (%) 0 0 4,9 47,5 45,5 1,9





















LAMPIRAN III


Catatan Pengumpulan Telur
Hari/Tgl: Rabu, 19 Mei 2010

Kelompok : Empat (IV)
Nama Petugas : Rezki P., Rias H., Bobit K. U., Andre P. dan Pebrianto M.
Kandang : Lab. PTU Fakultas Peternakan Unja
Pengambilan Ke : Jam 4 Sore

Jumlah Telur Seluruhnya : 56 Butir
Jumlah Yang Afkir : - Butir
Jumlah Yang Normal : 56 Butir

Total Berat Telur : 3,5 Kg
(Untuk Menghitung Konversi)

Henday = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henday 1 = 56 X 100% = 56 %
  100

Henhouse = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henhouse 1 = 56 X 100% = 56 %
  100




Catatan Pengumpulan Telur
Hari/Tgl: Kamis, 20 Mei 2010

Kelompok : Empat (IV)
Nama Petugas : Rezki P., Rias H., Bobit K. U., Andre P. dan Pebrianto M.
Kandang : Lab. PTU Fakultas Peternakan Unja
Pengambilan Ke : Jam 4 Sore

Jumlah Telur Seluruhnya : 55 Butir
Jumlah Yang Afkir : - Butir
Jumlah Yang Normal : 55 Butir

Total Berat Telur : 3 Kg
(Untuk Menghitung Konversi)

Henday = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henday 1 = 55 X 100% = 55 %
  100

Henhouse = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henhouse 1 = 55 X 100% = 55 %
  100







Catatan Pengumpulan Telur
Hari/Tgl: Jumat, 21 Mei 2010

Kelompok : Empat (IV)
Nama Petugas : Rezki P., Rias H., Bobit K. U., Andre P. dan Pebrianto M.
Kandang : Lab. PTU Fakultas Peternakan Unja
Pengambilan Ke : Jam 4 Sore

Jumlah Telur Seluruhnya : 66 Butir
Jumlah Yang Afkir : - Butir
Jumlah Yang Normal : 66 Butir

Total Berat Telur : 3 Kg
(Untuk Menghitung Konversi)

Henday = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henday 1 = 66 X 100% = 66 %
  100

Henhouse = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henhouse 1 = 66 X 100% = 66 %
  100







Catatan Pengumpulan Telur
Hari/Tgl: Sabtu, 21 Mei 2010

Kelompok : Empat (IV)
Nama Petugas : Rezki P., Rias H., Bobit K. U., Andre P. dan Pebrianto M.
Kandang : Lab. PTU Fakultas Peternakan Unja
Pengambilan Ke : Jam 4 Sore

Jumlah Telur Seluruhnya : 55 Butir
Jumlah Yang Afkir : 3 Butir
Jumlah Yang Normal : 52 Butir

Total Berat Telur : 3 Kg
(Untuk Menghitung Konversi)

Henday = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henday 1 = 55 X 100% = 55 %
  100

Henhouse = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henhouse 1 = 55 X 100% = 55 %
  100







Catatan Pengumpulan Telur
Hari/Tgl: Minggu, 22 Mei 2010

Kelompok : Empat (IV)
Nama Petugas : Rezki P., Rias H., Bobit K. U., Andre P. dan Pebrianto M.
Kandang : Lab. PTU Fakultas Peternakan Unja
Pengambilan Ke : Jam 4 Sore

Jumlah Telur Seluruhnya : 64 Butir
Jumlah Yang Afkir : - Butir
Jumlah Yang Normal : 64 Butir

Total Berat Telur : 3,28 Kg
(Untuk Menghitung Konversi)

Henday = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henday 1 = 64 X 100% = 64 %
  100

Henhouse = Jumlah Produksi Telur X 100 %
  Jumlah Ayam Yang Ada
Henhouse 1 = 64 X 100% = 64 %
  100









LAMPIRAN IV


Perhitungan Protein

• Konsentrat : 31/100 x 17 = 5,27

• Jagung : 8,6/100 x 26= 2,236

• Dedak : 11/100 x 13 = 1,43

• Mineral : 0

• Vitamin : 0
• Total = 8,936


EM

• Konsentrat : 31x 3330/100 = 1032,3

• Jagung : 8,6 x 3330/100= 286,38

• Dedak : 11 x 1540/100 = 169,4

• Mineral : 0

• Vitamin : 0
• Total = 1488,08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar